1.
Bahasa
Bahasa merupakan anugerah tak terkira
pada manusia dari Tuhan sebagai penciptanya. Bahasalah yang membuat manusia
berbeda dari hewan. Manusia dapat membangun peradabannya karena dapat
menggunakan nalarnya yang menggunakan bahasa sebagai sarananya. Ilmu yang
mempelajari bahasa disebut linguistik.
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata-kata secara
efektif baik bicara ataupun menulis. Anak yang memiliki kecerdasan seperti itu
memiliki ciri-ciri dapat berargumentasi, meyakinkan orang lain, menghibur atau
mengajar dengan efektif lewat kata-kata, gemar membaca dan dapat mengartikan
bahasa tulisan dengan jelas. Dalam
berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi
ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Pengertian bahasa menurut Kridalaksana (2005:3) adalah
sistem bunyi yang disepakati untuk di pergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat
tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.
Dari defenisi tersebut dapat di
uraikan bahwa (1) bahasa adalah sebuah sistem. Maksudnya adalah bahasa itu
bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tidak beraturan. Seperti halnya
sistem-sistem lain unsur-unsur bahasa “diatur” seperti pola-pola yang berulang
sehingga kalau hanya salah satu bagian saja tidak tampak, dapatlah “diramalkan”
atau “dibayangkan” keseluruhannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa
itu sistematis, dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang dapat
diramalkan, dan juga sistemis, bukan sistem yang tunggal, tetapi terdiri dari
beberapa subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem gramatika dan subsistem
leksikon; (2) bahasa adalah sistem tanda. Tanda adalah ‘hal atau benda yang
mewakili sesuatu, atau hal yang menimbulkan reaksi yang sama bila orang
menanggapi’ (dengan cara mendengar, melihat, dan sebagainya) apa yang
diwakilinya itu; (3) bahasa adalah sistem bunyi. Pada dasarnya bahasa itu
berupa bunyi. Tulisan merupakan turunan belaka dari bunyi bahasa; (4) bahasa
digunakan berdasarkan kesepakatan agar orang dapat berkomunikasi dan bekerja
sama; (5) bahasa bersifat produktif. Artinya, sebagai sistem dari unsur-unsur
yang jumlahnya terbatas bahasa dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya;
(6) bahasa bersifat unik. Maksudnya bahasa memiliki sistem yang khas yang tidak
harus ada dalam bahasa lain; (7) sebaliknya ada pula sifat-sifat bahasa yang
dipunyai oleh bahasa lain sehingga ada sifat universal, ada pula yang hampir
universal; (8) bahasa memiliki variasi-variasi karena bahasa dipakai oleh
sekelompok manusia untuk berkomunikasi dan bekerja sama dan pemakai bahasa itu
banyak ragamnya; (9) bahasa digunakan manusia yang masing-masing memiliki
cirinya sendiri-sendiri untuk pelbagai keperluan (kridalaksana, 2005:3-6).
2. Seni
Dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia (2007: 311), seni
diartikan sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai
tinggi (luar biasa). Untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi itu, maka
diperlukan bahasa sebagai medianya. Seni pada mulanya adalah proses dari
manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu sehingga tidak heran
jika seni sering kita jumpai dalam dunia pendidikan. Seni berfungsi untuk
menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara
seefektif mungkin. Sekalipun demikian, banyak seniman mengungkap gagasan
tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian
dan mawar merah yang bermaksud cinta).
Melalui seni, manusia mampu berinteraksi dan berkomunikasi, baik melalui
gerakan, suara, maupun alat musik. Untuk mengadakan interaksi dan komunikasi
tersebut, seni menggunakan bahasa sebagai medianya. Hal ini merupakan salah
satu korelasi antara bahasa dengan seni.
3.
Budaya
Budaya adalah
pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI:
2005:169). Budaya adalah bagian integral dari interaksi antara bahasa
dan pikiran. Faktor sosial dan kultur atau budaya memiliki hubungan yang erat
dengan bahasa. Setiap kali kita mengajarkan satu bahasa, kita juga mengajarkan
satu sistem yang kompleks tentang kebiasaan budaya, nilai-nilai, cara berpikir,
merasa, dan bertindak.
Relevansi
Linguistik terhadap Seni dan Budaya
Bahasa, seni dan budaya adalah tiga hal yang tidak terpisahkan. Dalam
bahasa ada kesenian dan budaya. Sebaliknya dalam seni dan budaya terdapat
bahasa. Ketiganya merupakan unsur yang universal, yang artinya bahwa setiap
orang berbahasa pasti harus memerhatikan seni berbahasanya dan budaya (etika).
Dalam komunikasi sehari-hari tidak semua hal dapat dibahasakan, maka
penyampaiannya mungkin harus melalui gambar atau puisi (mis: Chairil Anwar
dalam karyanya) lirik lagu (mis: Ebiet G. Ade/Iwan Fals dalam karyanya) agar
lebih efektif dan efisien yang penyampaiannya juga harus mempertimbangkan nilai
rasa (budaya) agar terhindar dari sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat. Sebab dalam alam interaksi sosial, kita tidak jarang menemukan
bahwa apa yang kita ucapkan atau kita sampaikan kepada lawan bicara tidak bisa
dipahami dengan baik. Kegagalan memahami pesan ini disebabkan beberapa faktor,
antara lain: beda usia, beda pendidikan, beda pengetahuan, cara
penyampaian dan lain-lain.
Oleh
karena itu, linguistik, seni, dan budaya merupakan hal yang saling melengkapi
dalam berkomunikasi.
Daftar Bacaan
Kridalaksana, Harimurti. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta:
Gramedia.
Rama, Tri.
2007. Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung.
Samsuri. (1994). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya.






0 comments:
Post a Comment