Wednesday, September 4, 2013

Relevansi Linguistik terhadap Seni dan Budaya



1.    Bahasa
Bahasa merupakan anugerah tak terkira pada manusia dari Tuhan sebagai penciptanya. Bahasalah yang membuat manusia berbeda dari hewan. Manusia dapat membangun peradabannya karena dapat menggunakan nalarnya yang menggunakan bahasa sebagai sarananya. Ilmu yang mempelajari bahasa disebut linguistik.
Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata-kata secara efektif baik bicara ataupun menulis. Anak yang memiliki kecerdasan seperti itu memiliki ciri-ciri dapat berargumentasi, meyakinkan orang lain, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata, gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Pengertian bahasa menurut Kridalaksana (2005:3) adalah sistem bunyi yang disepakati untuk di pergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.
Dari defenisi tersebut dapat di uraikan bahwa (1) bahasa adalah sebuah sistem. Maksudnya adalah bahasa itu bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tidak beraturan. Seperti halnya sistem-sistem lain unsur-unsur bahasa “diatur” seperti pola-pola yang berulang sehingga kalau hanya salah satu bagian saja tidak tampak, dapatlah “diramalkan” atau “dibayangkan” keseluruhannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa itu sistematis, dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang dapat diramalkan, dan juga sistemis, bukan sistem yang tunggal, tetapi terdiri dari beberapa subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem gramatika dan subsistem leksikon; (2) bahasa adalah sistem tanda. Tanda adalah ‘hal atau benda yang mewakili sesuatu, atau hal yang menimbulkan reaksi yang sama bila orang menanggapi’ (dengan cara mendengar, melihat, dan sebagainya) apa yang diwakilinya itu; (3) bahasa adalah sistem bunyi. Pada dasarnya bahasa itu berupa bunyi. Tulisan merupakan turunan belaka dari bunyi bahasa; (4) bahasa digunakan berdasarkan kesepakatan agar orang dapat berkomunikasi dan bekerja sama; (5) bahasa bersifat produktif. Artinya, sebagai sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas bahasa dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya; (6) bahasa bersifat unik. Maksudnya bahasa memiliki sistem yang khas yang tidak harus ada dalam bahasa lain; (7) sebaliknya ada pula sifat-sifat bahasa yang dipunyai oleh bahasa lain sehingga ada sifat universal, ada pula yang hampir universal; (8) bahasa memiliki variasi-variasi karena bahasa dipakai oleh sekelompok manusia untuk berkomunikasi dan bekerja sama dan pemakai bahasa itu banyak ragamnya; (9) bahasa digunakan manusia yang masing-masing memiliki cirinya sendiri-sendiri untuk pelbagai keperluan (kridalaksana, 2005:3-6).
2.    Seni
Dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia (2007: 311), seni diartikan sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa). Untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi itu, maka diperlukan bahasa sebagai medianya. Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu sehingga tidak heran jika seni sering kita jumpai dalam dunia pendidikan. Seni berfungsi untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin. Sekalipun demikian, banyak seniman mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).
Melalui seni, manusia mampu berinteraksi dan berkomunikasi, baik melalui gerakan, suara, maupun alat musik. Untuk mengadakan interaksi dan komunikasi tersebut, seni menggunakan bahasa sebagai medianya. Hal ini merupakan salah satu korelasi antara bahasa dengan seni.
3.    Budaya
Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI: 2005:169). Budaya adalah bagian integral dari interaksi antara bahasa dan pikiran. Faktor sosial dan kultur atau budaya memiliki hubungan yang erat dengan bahasa. Setiap kali kita mengajarkan satu bahasa, kita juga mengajarkan satu sistem yang kompleks tentang kebiasaan budaya, nilai-nilai, cara berpikir, merasa, dan bertindak.

Relevansi Linguistik terhadap Seni dan Budaya
Bahasa, seni dan budaya adalah tiga hal yang tidak terpisahkan. Dalam bahasa ada kesenian dan budaya. Sebaliknya dalam seni dan budaya terdapat bahasa. Ketiganya merupakan unsur yang universal, yang artinya bahwa setiap orang berbahasa pasti harus memerhatikan seni berbahasanya dan budaya (etika). Dalam komunikasi sehari-hari tidak semua hal dapat dibahasakan, maka penyampaiannya mungkin harus melalui gambar atau puisi (mis: Chairil Anwar dalam karyanya) lirik lagu (mis: Ebiet G. Ade/Iwan Fals dalam karyanya) agar lebih efektif dan efisien yang penyampaiannya juga harus mempertimbangkan nilai rasa (budaya) agar terhindar dari sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat. Sebab dalam alam interaksi sosial, kita tidak jarang menemukan bahwa apa yang kita ucapkan atau kita sampaikan kepada lawan bicara tidak bisa dipahami dengan baik. Kegagalan memahami pesan ini disebabkan beberapa faktor, antara lain: beda usia, beda pendidikan, beda pengetahuan, cara penyampaian dan lain-lain.
Oleh karena itu, linguistik, seni, dan budaya merupakan hal yang saling melengkapi dalam berkomunikasi.

Daftar Bacaan
Kridalaksana, Harimurti. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Rama, Tri. 2007. Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung.
Samsuri. (1994). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Soeparno. 2002. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

0 comments:

Post a Comment