A.
PENDAHULUAN
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya
adalah manusia dan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Hakikat dalam sebuah
pembelajaran sastra adalah apresiasi sastra karena dalam apresiasi sastra siswa
dapat bertemu secara langsung dengan karya sastra. Siswa melaksanakan aktivitas
membaca, menikmati, menghayati, memahami, serta merespon karya sastra di
hadapan khalayak. Di sana diciptakan iklim kondusif agar siswa lebih terobsesi
terhadap karya sastra serta dinamika yang ada di dalamnya sehingga siswa
menjadi tertarik mengikuti pembelajaran ini. Melalui
pembelajaran apresiasi sastra diharapkan siswa mampu mengapresiasi dan
memberikan penghargaan dengan tulus terhadap karya sastra yang ada. Hal inilah
yang menjadi tujuan akhir dalam pembelajaran bahasa, khususnya sastra di
sekolah, yaitu menjadikan siswa paham dan mengerti apa itu sastra serta dapat
mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembelajaran sastra dalam prosesnya membutuhkan sebuah karya sastra yang
bermutu dan berkualitas. Menurut Sutarji Calzom Bahri, suatu karangan dikatakan
berkualitas manakala karangan itu mengedepankan nilai-nilai kehidupan yang
bermakna, mampu memikat, menggugah, mewujudkan sebagai karya kreatif,
mewujudkan diri sebagai karangan bersifat imajinatif yang dituang dalam wacana
naratif, puitik atau dramatik. Karangan itu disampaikan dengan cara yang apik,
indah, dan enak dibaca. Diceritakan secara tidak langsung (implisit), tidak
terang-terangan namun jernih, bersifat informatif tanpa ada kesan menggurui,
tidak berpretensi ilmiah atau agamis tetapi tetap memberikan masukan-masukan
yang berharga.
Dunia sastra berkembang sesuai dengan kehidupan dan perubahan zaman. Dewasa ini novel bertema remaja,
cinta, seks banyak bermunculan di peredaran. Tema yang begitu menjual tapi
kurang mendidik bagi pembaca pada umumnya. Namun dari sekian banyak itu, masih
terdapat beberapa novel yang berusaha untuk tidak tergoda dengan tema itu dan
berusaha memberikan tema lain yang dikemas secara apik sehingga menjadikan
sebuah bacaan yang bermutu dan berkualitas.
Salah satu dari beberapa novel tersebut, terdapat sebuah
novel yang menjadikan pendidikan sebagai temanya. Memiliki gaya penceritaan
yang apik dan penggunaan sudut pandang serta setting yang terperinci yang menjadikannya sebuah novel yang enak
dan layak dibaca. Diramu menjadi sebuah bacaan yang imajinatif, sugestif, serta
mendidik bagi pembaca. Novel ini adalah Laskar Pelangi karya Andrea
Hirata. Beberapa
komentar positif tentang novel ini pun bermunculan. Menurut Asrori. S. Karni, (2008:5) novel ini
merupakan potret kualitas pendidikan nyata bangsa Indonesia. Hal ini sejalan
dengan pendapat Sapardi Djoko Damono (dalam Laskar Pelangi:2005),
seorang sastrawan dan guru besar fakultas Ilmu Budaya UI bahwa Laskar
Pelangi merupakan sebuah ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang
menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan
sederhana, kendala dan kualitas pendidikan.
Masalah sosial yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi merupakan
sebuah realita dalam pendidikan di Indonesia. Novel ini menceritakan tentang
kemiskinan dan hubungannya dengan pendidikan, betapa sulit pendidikan di salah
satu pulau terkaya di Indonesia. Mereka tetap berjuang dan berusaha keras
menempuh pendidikan di tengah kemiskinan yang ada dalam masyarakat Belitong.
Mereka bertujuan mengentaskan kemiskinan itu dengan pendidikan. Hal ini
menunjukkan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat pada saat karya
tersebut diciptakan.
Dengan demikian berdasarkan uraian di atas maka kami bermaksud untuk meneliti lebih lanjut struktur pembangun karya sastra (intrinsik dan
ekstrinsik) serta persoalan-persoalan
sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Untuk mendapatkan file lengkap silahkan download di bawah ini:






0 comments:
Post a Comment